Darknet: Jalur Gelap Internet

Internet yang kita kenal selama ini memiliki bagian yang tersembunyi dan tidak semua orang bisa mengaksesnya. Itulah yang disebut dengan Darknet.

EPIK GENRE FILM TENTANG KEPAHLAWANAN

Epik merupakan genre film yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, dan kisah kepahlawanan merupakan cerita yang tak pernah ada habisnya dikonsumsi manusia.

VIDEO MUSIK

Video musik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film pendek. Hanya, video musik merupakan perpaduan antara lagu dan gambar. Biasanya video musik berkaitan dengan kepentingan promosi dan penjualan album atau single simusikus ataupun grup.

VIDEO MUSIK DI INTERNET

Pada 2005, perkembangan teknologi digital semakin pesat. Tadinya orang akan berpikir dua kali bila menemukan file besar, sudah pasti akan memakan waktu lama untuk mengunduh. Pada 1997, mulailah situs iFilm menjadi host bagi video pendek. lalu Napster membuka layanan sharing video pada 1999-2001. Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 24 Agustus 2015

VIDEO MUSIK DI INTERNET



Pada 2005, perkembangan teknologi digital semakin pesat. Tadinya orang akan berpikir dua kali bila menemukan file besar, sudah pasti akan memakan waktu lama untuk mengunduh. Pada 1997, mulailah situs iFilm menjadi host bagi video pendek. lalu Napster membuka layanan sharing video pada 1999-2001. 

                                                                                                                   
Kemudian, pada 2005 meluncurlah website YouTube, yang membuat terobosan menonton video online menjadi lebih mudah dan cepat. Situs teknologi digital semakin ini melekat di kepala orang, sehingga mencari video, berarti membuka YouTube. Semakin lama musikus yang melihat kesempatan ini semakin menyadari posisi YouTube sebagai jalan untuk lebih meluaskan popularitas videonya.



Salah satu yang mengenyam manisnya keberadaan YouTube adalah Weezer, dengan video musik Pork and Beans pada 2008. Single itu menjadi karya Weezer yang paling sukses akibat efek video musik yang diunggah ke YouTube. Sayangnya, pada 2007 YouTube harus berhadapan dengan RiAA, yang mempertanyakan hak intelektual atas penayangan berbagai video musik itu. legalitas kepemilikan video musik tersebut berada di tangan label musik yang merilis karya itu. Setelah merger dengan Google, YouTube mencari cara membayar royalti pemutaran sebuah video musik.

Namun masalahnya tidak sesederhana itu. Tiap label memiliki kebijakan sendiri dalam merilis video musik. Rata-rata label itu merilisnya sebagai bentuk promosi penjualan produknya.

Video musik menciptakan popularitas tersendiri bagi musikus/ grup. Thirty Seconds to Mars, misalnya, pada 2009 mengangkat Kings and Queens ke YouTube, yang langsung dilihat oleh 100 juta penonton. Di MySpace, video musik ini ditonton oleh 40 juta orang. Adapun di iTunes Store, video musik tersebut menjadi Video of the Week dan salah satu video musik yang kerap diunduh. Video itu menghasilkan empat nomine dalam MTV Video Music Awards 2010.




Video musik saat ini tak hanya dapat dinikmati di televisi. Koneksi dan kecepatan internet yang semakin baik membuat video musik sangat mudah ditonton secara online. Dengan kepemilikan bersama antara universal Music Group, Sony Music Entertainment, Google, dan Abu Dhabi Media, meluncurlah Vevo pada akhir 2009.


Video musik yang ada merupakan milik perusahaan bersama, yang membagi kue iklan dengan Google sebagai pemilik YouTube. Video musik di jaringan Vevo diambil dari perpustakaan tiga label besar, yakni universal, Sony Music, dan EMi. Maka Vevo tak pernah kehabisan video musik karya musikus ternama. Konon, Warner Music Group sempat tertarik bergabung, tapi akhirnya memilih MTV Networks.

( Sumber : MALE MAGAZINE ) 

VIDEO MUSIK


Video musik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan film pendek. Hanya, video musik merupakan perpaduan antara lagu dan gambar. Biasanya video musik berkaitan dengan kepentingan promosi dan penjualan album atau single simusikus ataupun grup.

Kehadiran MTV pada 1980an sedikit-banyak membantu memuluskan hadirnya video musik, yang sebenarnya sudah ada sejak dekade sebelumnya, hanya penamaannya tidak seragam dan cenderung membiaskan makna sebenarnya. Istilah yang dipakai kala itu seperti song video, song clip, film clip, dan filmed insert.


Dalam perkembangannya, video musik tak hanya menampilkan film bermusik. lebih dari itu, keberadaannya sejalan dengan kemajuan teknologi atau tren yang tengah digandrungi di dunia perfilman. Pembuatan video musik biasanya tak mengacu pada pakem produksi film. Produksi video musik dapat dilakukan, misalnya, dengan pendekatan pembuatan film dokumenter, film abstrak, dan film action, atau dengan memasukkan animasi ke dalamnya. Namun kebanyakan produksinya berdasarkan keutuhan lagu yang dibuatkan video musik, misalnya dari lirik yang ada atau pemaknaan lirik yang dibuat. Sejak suara memasuki dunia perfilman, bermunculanlah film yang berhiaskan musik dan lagu. Adapun video musik baru ada pada 1950-an. Diyakini Tony Bennet adalah penyanyi pertama yang merekam dan menyiarkannya di Amerika Serikat serta Inggris. Namun yang digarap dengan sungguh-sungguh adalah video musik Jailhouse Rock, yang dibawakan oleh Elvis Presley.



Karya energetik dengan tampilan hitam-putih menjadi salah satu momentum pembuatan video musik. Jika mengacu pada tujuan pembuatannya sebagai promosi dan penjualan album atau single, video musik Dame si do bytu (Let’s Get to the Apartment) garapan ladislav Rychman pada 1958 adalah yang paling tua.

Tak dapat dibantah The Beatles-lah yang menetapkan dasar pembuatan video musik saat ini, dengan filmnya, A Hard Day’s Night (1964), yang disutradarai oleh Richard lester. Film hitam-putih itu dibuat seperti film dokumenter, yang memasukkan unsur komedi dan dialog yang ditingkahi musik. Bila bagian per bagian film tersebut dipotong, akan menjadi kesatuan yang berdiri sendiri. Walhasil, bagian yang menampilkan adegan bernyanyi seolah menjadi model bagi pembuatan video musik saat ini.




Film kedua The Beatles, Help! (1965), lebih mumpuni lagi. Film berwarna itu menggunakan berbagai teknik pengambilan gambar, yang pada saat itu tidaklah lazim. Misalnya, pengambilan gambar lebih berfokus pada foreground kepala gitar George Harrison ketimbang sosok John lennonnyang berada di belakangnya. Baru pada 1965 itu The Beatles peduli terhadap keberadaan video musik, atau kala itu disebut filmed insert. Maka lahirlah video musik Rain/Paperback Writer, Strawberry Fields Forever, dan Penny Lane.

“EPIK” GENRE FILM “EPIK” GENRE FILM TENTANG KEPAHLAWANAN



Epik merupakan genre film yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, dan kisah kepahlawanan merupakan cerita yang tak pernah ada habisnya dikonsumsi manusia. sejak peradaban manusia muncul, tidak mustahil epik selalu menempati urutan teratas. Tentunya epik ini dibalut dengan berbagai mitologi, yang kemudian menjadi legenda. Pada peradaban modern, epik pun tak ada habisnya dijadikan dasar kreativitas dalam berkarya. sementara dulu epik diceritakan dengan gaya berapi-api untukmenggambarkan sisi kepahlawanan tokoh tertentu, pada zaman modern ini diwujudkan dalam tontonan yang penuh efek khusus. Pun dalam hal musik, tampak berbagai kreativitas yang menyuguhkan beragam lirik. Demikian halnya dalam novel, kata demi kata dirangkai untuk menghadirkan sosok pahlawan si tokoh cerita.



Namun epik agak berbeda dengan sosok superhero yang tampil sebagaipembela kebenaran, seperti yang dilukiskan di layar lebar. Yang tercipta adalah pahlawan yang berani menghadapi kebatilan, yang hendak melumatkan peradaban manusia. Adapun epik dalam dunia hiburan jelas lebih dekat dengan nilai kepahlawanan, keagungan, kemuliaan, keluhuran, dan kehebatan seseorang. Film epik termasuk genre yang paling tua. Ragam ini pertama kali muncul pada era film bisu. Film pertama bergenre epik adalah Cabiria garapan Giovanni Pastrone, yang berdurasi tiga jam.



Sudah dapat dipastikan film epik membutuhkan pemeran yang andal, lokasi yang sangat luas, dan panorama yang memukau. Lihat saja film Braveheart, Dances with Wolves, The Last of the Mohicans, The Alamo, Ben-Hur, dan Gone with the Wind. Karakteristik film bergenre epik biasanya mengedepankan kaum bangsawan, orang-orang tertindas, tokoh sejarah, dan pahlawan perang.

Tentunya Indonesia tak kalah dalam produksi film bergenre epik ini, malah seperti menjadi kewajiban ketika rezim Orde Baru memerintah negeri ini. Janur Kuning, Serangan Fajar, dan G-30-S/ PKI menjadi fenomena perfilman Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai bentuk penyelewengan sejarah demi pengultusan sosok besar pada masa itu.

Lepas dari itu, dunia perfilman Indonesia pada awalnya juga tak luput dari kisah epik masa perjuangan kemerdekaan. simak saja beberapa film berikut: Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Jogja (1951), Kafedo (1953), serta Lewat Djam Malam (1954). selain itu, kenali pula film Pedjuang (1960); Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961); Anak-anak Revolusi (1964); dan Liburan Seniman (1965).

Ternyata tak mudah mengkategorikan film dalam genre epik. Tak selamanya film epik memiliki karakter yang umumnya diketahui oleh publik atau si pembuat film. tengok saja film lawas East of Eden, yang memakai lokasi syuting yang sangat luas dengan panorama yang amat indah. Film ini bergaya epik, tapi tak memiliki karakter epik yang sesungguhnya.

Ben-Hur dan 300 memiliki karakteristik yang sama, yakni menceritakan kepahlawanan dengan latar belakang sejarah. Dua film ini dikategorikan sebagai film bergenre epik. Namun tak semudah itu! Dua film tersebut dikategorikan pula dalam genre sejarah, bahkan cenderung lebih dekat ke arah itu. Padahal keduanya memiliki semua karakteristik film epik. Contoh lainnya Gone with the Wind yang sangat romantis, tapi dikategorikan film epik.


Detail adalah kekuatan lain film-film epik yang laris di pasar, yang biasanya berhubungan dengan sejarah dan kondisi masyarakat kala itu. Film epik dipersiapkan dengan sangat matang, mulai lokasi, set, pengambilan gambar, hingga keadaan masyarakat saat itu.
Film epik mencapai puncaknya pada awal 1960-an. Untuk memproduksi film epik yang baik, Hollywood kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang berada di luar Amerika serikat, seperti di Maroko dan spanyol. Hasilnya tidak mengecewakan, dan film-film epik itu termasuk kategori film legendaris, seperti Cleopatra (1963), The Fall of the Roman Empire (1964), dan Doctor Zhivago (1965).


Dalam perkembangannya, genre film epik kemudian melebar dan bergandengan dengan genre lainnya. Contohnya film Braveheart (1995) garapan Mel gibson yang dimasukkan dalam genre epik sejarah. Begitu pula dengan film epik sejarah yang berdasarkan keyakinan tertentu, seperti The Passion of the Christ, Mahabharata, dan The Message. Adapun film Gone with the Wind dikategorikan dalam subgenre epik roman, sedangkan film fantasi epik yang sangat terkenal adalah serial Harry Potter dan trilogi The Lord of the Rings.


Epik adalah salah satu genre dalam industri perfilman yang memiliki pasar penikmat tersendiri. Namun film epik tak hanya berhubungan dengan kemuliaan, keluhuran, dan kepahlawanan. Lebih dari itu, berbicara tentang film epik berarti berbicara mengenai film berbujet besar.
Meskipun film epik relatif menghabiskan bujet produksi yang besar, pemasukannya sangatlah fantastis. Film epik tersebut adalah film yang laris di pasar dan memberi keuntungan bagi produsennya, seperti Gone with the Wind, Avatar, dan Titanic. Semua film itu menangguk angka US$ 2 juta. Sementara itu, penerima Academy Award terbanyak adalah film epik, yakni Ben-Hur, Titanic, dan The Lord of the Rings: The Return of the King.

( Sumber : MALE MAGAZINE )






Minggu, 16 Agustus 2015

TENTANG DARKNET




Darknet: Jalur Gelap Internet

Internet yang kita kenal selama ini memiliki bagian yang tersembunyi dan tidak semua orang bisa mengaksesnya. Itulah yang disebut dengan Darknet. Untuk menemukan jalur ini bukan saja diperlukan pengetahuan mengenai teknologi internet, namun juga harus terjun mengeksplorasi cara-cara yang ingin ditempuh di jalur ini. Karena dalam Darknet tidak terdapat Google atau mesin pencari lain. Di sana hanya ada semacam katalog, yang bahkan tidak memuat semua halaman yang ada. Dan memang jalur seperti inilah yang diinginkan perancang Darknet: jalur yang terutama menawarkan anonimitas.

Perbedaan besar antara internet biasa dan Darknet adalah, Darknet bergerak secara lokal dan benar-benar anonim. Artinya, pada dasarnya kedua jaringan ini memiliki struktur yang sangat berbeda. Di internet biasanya diatur secara terpusat. Misalnya, untuk memanfaatkan Facebook, user diharuskan untuk login ke sistem. Dan user lain, yang ingin melihat informasi di Facebook, juga harus login terlebih dahulu. Dalam hal ini, server milik Facebook lah yang menjadi titik fokus, karena semua data yang ditinggalkan user disimpan. Dan dari sudut privasi, ini juga merupakan bagian yang paling rentan. Siapa yang memiliki akses ke server Facebook, Google atau layanan online besar lainnya, ia dapat juga mengakses lalu lintas data di server tersebut, dan inilah yang dilakukan NSA, seperti yang diungkapkan Edward Snowden.

Darknet sebaliknya bekerja tanpa struktur pusat, setiap komputer adalah server, namun hanya menyimpan satu bagian dari informasi yang dibutuhkan, yang juga dienkripsi. Juga transfer data antar komputer di Darknet dilakukan secara anonim, sehingga walaupun data-data ini dapat dikumpulkan, bahkan dinas rahasia tidak bisa memanfaatkan data tersebut.

Dengan adanya Darknet, terbentuklah jaringan paralel di dunia maya, yang tampaknya terutama menarik untuk para pelaku kejahatan. Di jaringan Darknet misalnya terdapat “Silk Road” atau “Black Market Reloaded“, layanan yang menawarkan senjata, narkoba atau “jasa”. Siapa yang tidak dapat membuat virus computer sendiri, bisa juga mencari bantuan di Darknet. Juga transaksi bisa dilakukan secara anonim. Biasanya penjual dan pembeli menggunakan mata uang internet Bitcoin. Dan pertukaran data jual beli juga berjalan secara anonim: mata uang juga berupa kumpulan data, yang tidak dapat diperbanyak begitu saja, tapi dapat ditukar secara legal menjadi uang sungguhan.
Juga di kalangan penentang pemerintah, Darknet sangat populer. Siapa saja yang memiliki akses internet bisa menyambungkan diri ke Darknet, misalnya dengan bantuan “Tor“, satu perangkat lunak yang menjadikan user menjadi anonim dalam internet. Pembocor kegiatan mata-mata Amerika Serikat, Edward Snowden, dikabarkan memanfaatkan Darknet untuk menjalin kontak dengan wartawan Guardian.
Dengan melihat hal tersebut, bisa dikatakan bahawa sebagian besar informasi dan kontern yang terdapat diinternet berada di Darknet.
(sumber : http://www.dw.com/id )