Epik merupakan genre film yang menceritakan
tentang kisah kepahlawanan, dan kisah kepahlawanan merupakan cerita yang tak
pernah ada habisnya dikonsumsi manusia. sejak peradaban manusia muncul, tidak
mustahil epik selalu menempati urutan teratas. Tentunya epik ini dibalut dengan
berbagai mitologi, yang kemudian menjadi legenda. Pada peradaban modern, epik
pun tak ada habisnya dijadikan dasar kreativitas dalam berkarya. sementara dulu
epik diceritakan dengan gaya berapi-api untukmenggambarkan sisi kepahlawanan tokoh
tertentu, pada zaman modern ini diwujudkan dalam tontonan yang penuh efek
khusus. Pun dalam hal musik, tampak berbagai kreativitas yang menyuguhkan
beragam lirik. Demikian halnya dalam novel, kata demi kata dirangkai untuk
menghadirkan sosok pahlawan si tokoh cerita.
Namun epik agak berbeda dengan sosok superhero
yang tampil sebagaipembela kebenaran, seperti yang dilukiskan di layar lebar.
Yang tercipta adalah pahlawan yang berani menghadapi kebatilan, yang hendak
melumatkan peradaban manusia. Adapun epik dalam dunia hiburan jelas lebih dekat
dengan nilai kepahlawanan, keagungan, kemuliaan, keluhuran, dan kehebatan seseorang.
Film epik termasuk genre yang paling tua. Ragam ini pertama kali muncul pada
era film bisu. Film pertama bergenre epik adalah Cabiria garapan Giovanni Pastrone, yang berdurasi tiga jam.
Sudah dapat dipastikan film epik membutuhkan
pemeran yang andal, lokasi yang sangat luas, dan panorama yang memukau. Lihat saja
film Braveheart, Dances with Wolves, The Last of the Mohicans, The Alamo,
Ben-Hur, dan Gone with the Wind. Karakteristik film bergenre epik biasanya
mengedepankan kaum bangsawan, orang-orang tertindas, tokoh sejarah, dan
pahlawan perang.
Tentunya Indonesia tak kalah dalam produksi
film bergenre epik ini, malah seperti menjadi kewajiban ketika rezim Orde Baru
memerintah negeri ini. Janur Kuning, Serangan Fajar, dan G-30-S/ PKI menjadi
fenomena perfilman Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai bentuk
penyelewengan sejarah demi pengultusan sosok besar pada masa itu.
Lepas dari itu, dunia perfilman Indonesia
pada awalnya juga tak luput dari kisah epik masa perjuangan kemerdekaan. simak
saja beberapa film berikut: Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Jogja (1951),
Kafedo (1953), serta Lewat Djam Malam (1954). selain itu, kenali pula film
Pedjuang (1960); Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961); Anak-anak Revolusi
(1964); dan Liburan Seniman (1965).
Ternyata tak mudah mengkategorikan film dalam
genre epik. Tak selamanya film epik memiliki karakter yang umumnya diketahui oleh
publik atau si pembuat film. tengok saja film lawas East of Eden, yang memakai
lokasi syuting yang sangat luas dengan panorama yang amat indah. Film ini
bergaya epik, tapi tak memiliki karakter epik yang sesungguhnya.
Ben-Hur dan 300 memiliki karakteristik yang
sama, yakni menceritakan kepahlawanan dengan latar belakang sejarah. Dua film
ini dikategorikan sebagai film bergenre epik. Namun tak semudah itu! Dua film
tersebut dikategorikan pula dalam genre sejarah, bahkan cenderung lebih dekat
ke arah itu. Padahal keduanya memiliki semua karakteristik film epik. Contoh
lainnya Gone with the Wind yang sangat romantis, tapi dikategorikan film epik.
Detail adalah kekuatan lain film-film epik yang
laris di pasar, yang biasanya berhubungan dengan sejarah dan kondisi masyarakat
kala itu. Film epik dipersiapkan dengan sangat matang, mulai lokasi, set,
pengambilan gambar, hingga keadaan masyarakat saat itu.
Film epik mencapai puncaknya pada awal
1960-an. Untuk memproduksi film epik yang baik, Hollywood kemudian menjalin
kerja sama dengan berbagai pihak yang berada di luar Amerika serikat, seperti
di Maroko dan spanyol. Hasilnya tidak mengecewakan, dan film-film epik itu termasuk
kategori film legendaris, seperti Cleopatra (1963), The Fall of the Roman
Empire (1964), dan Doctor Zhivago (1965).
Dalam perkembangannya, genre film epik
kemudian melebar dan bergandengan dengan genre lainnya. Contohnya film
Braveheart (1995) garapan Mel gibson yang dimasukkan dalam genre epik sejarah.
Begitu pula dengan film epik sejarah yang berdasarkan keyakinan tertentu,
seperti The Passion of the Christ, Mahabharata, dan The Message. Adapun film
Gone with the Wind dikategorikan dalam subgenre epik roman, sedangkan film
fantasi epik yang sangat terkenal adalah serial Harry Potter dan trilogi The
Lord of the Rings.
Epik adalah salah satu genre dalam industri
perfilman yang memiliki pasar penikmat tersendiri. Namun film epik tak hanya
berhubungan dengan kemuliaan, keluhuran, dan kepahlawanan. Lebih dari itu, berbicara
tentang film epik berarti berbicara mengenai film berbujet besar.
Meskipun film epik relatif menghabiskan bujet
produksi yang besar, pemasukannya sangatlah fantastis. Film epik tersebut
adalah film yang laris di pasar dan memberi keuntungan bagi produsennya, seperti
Gone with the Wind, Avatar, dan Titanic. Semua film itu menangguk angka US$ 2
juta. Sementara itu, penerima Academy Award terbanyak adalah film epik, yakni
Ben-Hur, Titanic, dan The Lord of the Rings: The Return of the King.
( Sumber : MALE MAGAZINE )













