Senin, 24 Agustus 2015

“EPIK” GENRE FILM “EPIK” GENRE FILM TENTANG KEPAHLAWANAN



Epik merupakan genre film yang menceritakan tentang kisah kepahlawanan, dan kisah kepahlawanan merupakan cerita yang tak pernah ada habisnya dikonsumsi manusia. sejak peradaban manusia muncul, tidak mustahil epik selalu menempati urutan teratas. Tentunya epik ini dibalut dengan berbagai mitologi, yang kemudian menjadi legenda. Pada peradaban modern, epik pun tak ada habisnya dijadikan dasar kreativitas dalam berkarya. sementara dulu epik diceritakan dengan gaya berapi-api untukmenggambarkan sisi kepahlawanan tokoh tertentu, pada zaman modern ini diwujudkan dalam tontonan yang penuh efek khusus. Pun dalam hal musik, tampak berbagai kreativitas yang menyuguhkan beragam lirik. Demikian halnya dalam novel, kata demi kata dirangkai untuk menghadirkan sosok pahlawan si tokoh cerita.



Namun epik agak berbeda dengan sosok superhero yang tampil sebagaipembela kebenaran, seperti yang dilukiskan di layar lebar. Yang tercipta adalah pahlawan yang berani menghadapi kebatilan, yang hendak melumatkan peradaban manusia. Adapun epik dalam dunia hiburan jelas lebih dekat dengan nilai kepahlawanan, keagungan, kemuliaan, keluhuran, dan kehebatan seseorang. Film epik termasuk genre yang paling tua. Ragam ini pertama kali muncul pada era film bisu. Film pertama bergenre epik adalah Cabiria garapan Giovanni Pastrone, yang berdurasi tiga jam.



Sudah dapat dipastikan film epik membutuhkan pemeran yang andal, lokasi yang sangat luas, dan panorama yang memukau. Lihat saja film Braveheart, Dances with Wolves, The Last of the Mohicans, The Alamo, Ben-Hur, dan Gone with the Wind. Karakteristik film bergenre epik biasanya mengedepankan kaum bangsawan, orang-orang tertindas, tokoh sejarah, dan pahlawan perang.

Tentunya Indonesia tak kalah dalam produksi film bergenre epik ini, malah seperti menjadi kewajiban ketika rezim Orde Baru memerintah negeri ini. Janur Kuning, Serangan Fajar, dan G-30-S/ PKI menjadi fenomena perfilman Indonesia, yang kemudian dianggap sebagai bentuk penyelewengan sejarah demi pengultusan sosok besar pada masa itu.

Lepas dari itu, dunia perfilman Indonesia pada awalnya juga tak luput dari kisah epik masa perjuangan kemerdekaan. simak saja beberapa film berikut: Darah dan Doa (1950), Enam Djam di Jogja (1951), Kafedo (1953), serta Lewat Djam Malam (1954). selain itu, kenali pula film Pedjuang (1960); Toha, Pahlawan Bandung Selatan (1961); Anak-anak Revolusi (1964); dan Liburan Seniman (1965).

Ternyata tak mudah mengkategorikan film dalam genre epik. Tak selamanya film epik memiliki karakter yang umumnya diketahui oleh publik atau si pembuat film. tengok saja film lawas East of Eden, yang memakai lokasi syuting yang sangat luas dengan panorama yang amat indah. Film ini bergaya epik, tapi tak memiliki karakter epik yang sesungguhnya.

Ben-Hur dan 300 memiliki karakteristik yang sama, yakni menceritakan kepahlawanan dengan latar belakang sejarah. Dua film ini dikategorikan sebagai film bergenre epik. Namun tak semudah itu! Dua film tersebut dikategorikan pula dalam genre sejarah, bahkan cenderung lebih dekat ke arah itu. Padahal keduanya memiliki semua karakteristik film epik. Contoh lainnya Gone with the Wind yang sangat romantis, tapi dikategorikan film epik.


Detail adalah kekuatan lain film-film epik yang laris di pasar, yang biasanya berhubungan dengan sejarah dan kondisi masyarakat kala itu. Film epik dipersiapkan dengan sangat matang, mulai lokasi, set, pengambilan gambar, hingga keadaan masyarakat saat itu.
Film epik mencapai puncaknya pada awal 1960-an. Untuk memproduksi film epik yang baik, Hollywood kemudian menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang berada di luar Amerika serikat, seperti di Maroko dan spanyol. Hasilnya tidak mengecewakan, dan film-film epik itu termasuk kategori film legendaris, seperti Cleopatra (1963), The Fall of the Roman Empire (1964), dan Doctor Zhivago (1965).


Dalam perkembangannya, genre film epik kemudian melebar dan bergandengan dengan genre lainnya. Contohnya film Braveheart (1995) garapan Mel gibson yang dimasukkan dalam genre epik sejarah. Begitu pula dengan film epik sejarah yang berdasarkan keyakinan tertentu, seperti The Passion of the Christ, Mahabharata, dan The Message. Adapun film Gone with the Wind dikategorikan dalam subgenre epik roman, sedangkan film fantasi epik yang sangat terkenal adalah serial Harry Potter dan trilogi The Lord of the Rings.


Epik adalah salah satu genre dalam industri perfilman yang memiliki pasar penikmat tersendiri. Namun film epik tak hanya berhubungan dengan kemuliaan, keluhuran, dan kepahlawanan. Lebih dari itu, berbicara tentang film epik berarti berbicara mengenai film berbujet besar.
Meskipun film epik relatif menghabiskan bujet produksi yang besar, pemasukannya sangatlah fantastis. Film epik tersebut adalah film yang laris di pasar dan memberi keuntungan bagi produsennya, seperti Gone with the Wind, Avatar, dan Titanic. Semua film itu menangguk angka US$ 2 juta. Sementara itu, penerima Academy Award terbanyak adalah film epik, yakni Ben-Hur, Titanic, dan The Lord of the Rings: The Return of the King.

( Sumber : MALE MAGAZINE )






Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar